Total Tayangan Halaman

Minggu, 23 September 2012

My Bornday, 22 september.. (part II)

Mentari ke 23 di bulan September.  Terasa hangat sekali. Rasanya kebahagiaan kemarin masih belum mau pergi jauh dari hati saya. Semua orang begitu baik kemaren, memberi ucapan selamat ulang tahun lengkap dengan doa-doa terbaik mereka. Kebahagiaan yang tidak terkira rasanya. Ternyata mereka semua masih mengingat saya, ya walaupun mungkin sebagian lupa dan ingat karena di ingatkan melalui identitas yang tersemat di salah satu akun jejaring sosial, tapi tak masalah. toh mereka tetap bersedia mengucapkan doa-doa terbaik mereka untuk saya. Itu saja sudah cukup sudah cukup.

Di postingan sebelumnya, saya sempat bercerita kan kalau ulang tahun saya terasa sedikit mengecewakan saat ada selisih paham dengan blingbling?
Ya, bagaimana tidak kecewa, di hari pertama saya berusia 20 tahun, blingbling jutru membuat masalah.
Hhhhh... Syukurlah. itu hanya sekedar skenario kejutannya untuk saya. Katanya, ide itu berasal dari udin, salah satu sahabat dekat kami. Well, kekecewaan yang sempat merenggut keceriaan ulang tahun saya sempurna sirna saat blingbling menjabat tangan saya lalu mengucapkan "selamat ulang tahun ya sayang. maaf soal kemarin, itu cuma skenario kok."
Aaahhhh... Lega rasanya.

Kami pergi ke Salah satu Mall di Tangerang. Membeli kado yang saya mau. Lalu makan di sebuah resto. Walaupun cukup kecewa dengan rasa masakan yang tidak terlalu enak, pelayanan yang menurut kami kurang baik, tapi kami sedikit terhibur dengan suasana resto yang bergaya klasik, karena hampir semua properti yang digunakan berasal dari kayu. Ditambah lagi mereka mendesain resto layaknya rumah kuno dengan jendela-jendela besar di salah satu sisinya.
So romantic. Makan di meja kayu, disamping jendela besar bergaya kuno, lalu diterangi dengan lampu agak mirip lampion yang bercahaya kuning neon + entah kebetulan atau tidak, meja itu bernomor 22.
 Kami baru kembali ke rumah sekitar pukul 18.30 sore.

Kemarin, dia memberikan banyak kejutan untuk saya. memberikan kado, sebuah barang yang selama ini saya inginkan.
Dia juga terlihat begitu bahagia. Tak sedikitpun terihat raut masam di wajahnya. Dia begitu sempurna menjaga keceriaan ulang tahun saya. Walau terlihat lelah, tapi dia tak pernah melepaskan senyumnya.
Rasanya saya benar-benar tak ingin kehilangan moment indah itu.

Terima kasih banyak blingbling untuk keceriaan 22 September kemarin. 
Hari pertama di usia 20 tahun yang sangat menyenangkan....






                                                                                                                                                  ...LOVE YOU AMORE^^

Sabtu, 22 September 2012

My Bornday, 22 September...


Selamat ulang tahun ayaaaa..........
Semoga titahmu sebagai manusia di bumi dapat kau jalankan dengan baik.

22 September, Ini adalah hari ulang tahunku yang ke 20. Banyak hal yang aku harapkan dari ulang tahun yang menurutku tak kalah special dengan sweet seventeen ini. Hari pertamaku di usia yang ke 20 tahun, aku berharap ini akan menjadi hari yang benar-benar special untukku. Hari dimana semua atau sebagian kolegaku memberikan doa terbaiknya. Sungguh, aku tak berharap apapun selain doa-doa itu.

Dan di pagi yang cerah ini, aku sudah mendapat banyak doa terbaik mereka. Wish you all the best. Satu kalimat itu sudah cukup mewakili seluruh doa terbaik mereka. Aku mengamini dengan khusyuk setiap doa-doa itu. Berharap Tuhan tak menunda untuk meng-iyakan doa-doa mereka. Terima kasih teman-teman.

Tapi ada satu hal yang membuatku sedikit kecewa. Sesuatu yang membuatku menangis semalaman. Di hari spesialku ini, aku justru ada selisih paham dengan blingbling. Sedih rasanya. Benar dia orang pertama yang memberiku ucapan dan doa, tapi tak seperti tahun lalu. Kali ini dia justru sibuk mengkoreksi keburukan-keburukanku. Status bbm miliknya pun sekedar bertuliskan “HBD ay”. Terasa sepi sekali. Jauh berbeda dengan ucapannya setahun yang lalu, tepat di hari ulang tahun ke 19 ku.

Aku tak mengerti kenapa harus seperti ini. Aku hanya ingin doa yang tulus. Doa yang memaafkan. Doa yang terbaik. Tapi tak aku dapatkan dari blingbling. Aku bersyukur jika ini hanya bagian dari scenario kejutan untuk hari ulang tahunku, itupun kalau ada. Tapi jika ini sungguhan, tanpa scenario apapun di belakangnya, ya Tuhan, betapa sedihnya ini.

Sudahlah.
Aku tak ingin lebih dalam meratapi ini. Mungkin memang ini sudah yang terbaik menurut Tuhan untukku. Lagipula, tak seharusnya juga aku bersedih di hari bahagia ini. Seharusnya aku sibuk make a wish pada Tuhanku. Pemilik segalanya.
Yaa Allah, maaf jika selama 20 tahun aku bertugas di bumi, aku justru lebih banyak mengecewakan-Mu. Maaf karena hingga usiaku menginjak ke 20 tahun, imanku tak semakin baik. Yaa Allah, jika kau masih perkenankan aku untuk bermunajat, membuat permohonan di hari ulang tahunku, aku teramat memohon limpahan kasih sayang dari-Mu. Kuatkan aku jika aku memang di takdirkan kecewa hari ini, jauhkan aku dari segala prasangka buruk. Dan kendalikan aku, jika kebahagiaan masih pantas untukku di hari ini, jauhkan aku dari sikap berlebih-lebihan.

Terima kasih Yaa Allah, kau masih mengizinkan aku menghirup oksigen dengan gratis hingga usiaku 20 tahun. Terima kasih Kau masih menjagaku sebagai malaikat kecilmu yang dulu. Aku rindu padamu Yaa Allah. Aku takut disisa usiaku, aku tak bisa mengumpulkan uang untuk membeli tiket ke surga-Mu. Aku takut di hari kembaliku nanti aku tak bisa bertemu dengan-Mu lagi.
Yaa Allah, ku pasrahkan hari spesial ku ini pada-Mu. Ku pasrahkan semuanya pada-Mu.
Bismillahirrahmanirrahim.. dengan menyebut nama-Mu Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang..


Happy Bornday aya. Semoga hari-hari mendatang kau selalu bahagia, semakin dewasa, mampu menjadi wanita yang mandiri, mampu mewujudkan impianmu menjadi seorang penulis, semoga Tuhan selalu memberkahi dan melimpahkan kasih sayang-Nya untukmu.
Wish you all the best aya. Keep smile dan be strong. 

amore, boleh nggak kalo berantemnya di cancel dulu? jangan hari ini.
makasih semuanyaaaa atas doa dan ucapannya......

Senin, 20 Agustus 2012

rindu tak bertuan

Entahlah...
Aku tiba-tiba terisak sendiri. Airmataku tumpah begitu saja. Ada perasaan rindu yang begitu dalam dihati. Entah untuk siapa. Aku tak sempat memikirkannya, terlalu sibuk menyeka airmata. Malam yang teramat sunyi untukku. Terlalu banyak hal yang aku sembunyikan ke bawah sadarku, dan rasanya aku tak yakin satu diantaranya yang membuat perasaanku tiba-tiba tak karuan begini.
Seingatku, sudah lama memang aku tidak menangis se "dalam" ini. Biasanya saat sedang sedih, aku lebih suka membuang perasaan itu ke alam bawah sadarku. Membiarkan mereka semua menumpuk tak beraturan. Menunggu saat saat katarsis.
jangan-jangan inilah masa katarsis itu. Sesak rasanya. Aku rindu masa masa dimana aku bisa tertawa lepas tanpa beban apapun. Saat hidup begitu menyenangkan.
Saat aku menulis ini, airmataku masih banyak yang menetes. Aku rindu. Rindu yang teramat dalam. Sangat dalam. Tapi entah untuk siapa. Dan kenapa aku merindukan dia. Dia? Dia siapa? Aku tak tahu siapa yang ku rindukan.
Aku tersedu. Aku tergugu. Bingung rasanya. Hati sedang rindu, tapi entah siapa orangnya.
Lalu aku harus apa sekarang? Apa yang harus aku lakukan sekarang? Aku harus memberitahu siapa? Mengatakan apa pada siapa? Aku harus menelpon siapa? Aku harus mengirim pesan pada siapa? Harus ku sampaikan pada siapa?
Siapaaa??
Ya Tuhaaaannn.. Ada apa ini?
Apa maksud perasaan ini?
Kenapa aku tiba-tiba tersedu begini?

Aku lelah. Belum lega betul hati ini. Tapi aku sudah lelah menangis sesenggukan sendiri sejak tadi. Biarlah aku buang lagi perasaan tak bertuan ini ke alam bawah sadar. Biarkan saja dia menunggu sekali lagi saat saat katarsis itu.

Jumat, 27 Juli 2012

Aku seperti buta, tuli dan otomatis bisu

Aku ingin mereka tahu apa yang ada disini. Dihatiku untuk mereka...

Cahaya matahari mulai menyentuh bumi. Daun daun yang kemarin tampak putih, kedinginan tertutup salju, hari ini sudah dapat kembali menghijau. Bunga bunga yang kemarin enggan untuk merekah, hari ini sudah kembali cantik dengan warna warni indah. Burung burung terbang kesana kemari menyambut musim ini, kicaunya terdengar seru di udara. Mereka begitu ikhlas menerima titah Tuhannya.
Musim semi yang indah.

Dari balik jendela kamarku semua itu terlihat jelas. Begitu indah. Aahh.. andai saja aku bisa menunaikan hidupku seikhlas mereka. Andai saja aku bisa melihat dunia, seperti aku bisa melihat awal musim semi pagi ini. Andai saja aku bisa mendengar kisah dunia seperti aku mendengar kicau burung burung itu. Dan andai saja aku bisa mengatakan yang sebenarnya seperti aku mengatakan betapa indahnya musim semi ini.

Merah, kuning, hijau, biru. Aku bisa melihat jelas warna warna itu. Tapi aku seperti buta. Buta tentang kebahagiaan mereka. Aku tidak bisa melihat untuk tahu apa yang membuat mereka semua bahagia. Aku tidak bisa memastikan seberapa bermanfaatkah aku untuk mereka. Mereka marah atau bahagia saat aku di dekatnya. Aku tidak tahu semua itu. Aku seperti buta. Tidak bisa melihat warna apa yang mereka suka. Aku seperti buta. Tidak bisa melihat senyum mereka yang merekah, pipi mereka yang merona bahagia. Aku seperti buta yang tidak tahu apa apa tentang mereka. Aku mungkin telah benar-benar buta.

Do re mi fa sol la si do. Aku bisa dengar rangkaian bunyi itu. Aku bahkan bisa sedikit menirukannya. Tapi aku seperti tuli. Tuli tentang kebahagiaan dan kesedihan mereka. Aku tak tahu kapan mereka sedih dan kapan mereka bahagia. Aku tak bisa dengar tawa lepas dan isak tangis mereka. Aku tak bisa dengar bagaimana perasaan mereka. Sedang marahkah, sedihkah, bahagiakah, atau apapun. Aku tak bisa tahu semua itu. Aku tuli dari semua kesedihan dan kebahagiaan mereka. Aku mungkin telah benar-benar tuli.

A B C D E  G H I J K L M N O P Q R S T U V W X Y Z. Aku bisa menyebutkan setiap hurup itu satu per satu. Merangkaikan huruf-huruf itu menjadi belasan kata. Merangkaikan kata-kata itu menjadi puluhan kalimat. Menjadi ratusan paragraf. Menjadi ratusan narasi hidup yang ku bagi. Aku buta, aku tuli, dan otomatis aku seperti bisu untuk mengatakan apa yang menjadi hasratku. Ketidaktahuanku tentang mereka telah membuatku bisu. Aku tak tahu apa yang harus aku katakan. Harus ikut tertawakah, marahkah, atau menangis. Ketidaktahuan telah membuatku tidak bisa berkata apa-apa. Meminta maaf atau mengucapkan selamat.

Aku buta, tuli dan otomtis bisu tentang mereka. Aku seolah terputus dari kehidupan mereka. Aku tidak tahu apa-apa tentang mereka.

Entahlah, aku tidak tahu karena memang begitu nyatanya, atau mungkin ini salahku sendiri yang tak mau tahu tentang mereka. Tapi yang cukup jelas, disini, dibalik jendela kamarku, aku masih merindukan mereka. Aku masih merindukan melihat kehidupan mereka, mendengar ungkapan perasaan mereka, aku ingin ada untuk mereka. Aku ingin ada di samping mereka untuk tahu semua kesedihan, kebahagiaan, kemarahan, kekecewaan mereka setiap jengkalnya. Aku ingin memohon maaf, jika karena ulahku mereka marah atau kecewa. Aku ingin mengucapkan selamat saat mereka menerima kebahagiaan. Aku ingin berdoa get well soon jika mereka sedang sakit. Aku ingin mengatakan aku sayang mereka, aku merindukan mereka, aku selalu ada untuk mereka setiap harinya.

Ya Tuhan..
Aku ingin kembali melihat, mendengar, dan mengatakan sesuatu pada mereka.
Aku ingin tahu semua tentang mereka.
Aku ingin mendengar semua tentang mereka.
Aku selalu ingin mengatakan aku rindu mereka, aku sayang mereka, aku selalu ada untuk mereka.
Aku ingin menjadi salah satu orang yang bermakna untuk mereka. Bukan orang yang sia-sia dan tidak pernah dikenang baik oleh mereka.
Aku ingin Kau pun tahu Tuhan, dan aku yakin Kau Maha Tahu, apa yang ada di sini.
Di hatiku untuk mereka. ^^

Minggu, 15 Juli 2012

melaju meraih mimpi

"disini, malam ini, di bawah langit, di atas bumi, aku sedang menapaki jalanku untuk meraih mimpi, menengadahkan tangan memunajatkan doaku pada Tuhan, dan sesekali menangis pada rasa sakit, tapi bukan berarti aku mengaku kalah, aku tetap berdiri, menguatkan kaki demi masa depan yang lebih baik."

Aku ingin seperti Dam, salah satu tokoh utama dalam novel "Ayahku (bukan) pembohong" karya salah satu novelis terbaik Indonesia Tere Liye. Berbekal cerita-cerita Ayahnya sejak kecil, Dam terdidik sebagai anak yang memiliki banyak mimpi. Effort-nya dalam meraih mimpinya juga sangat kuat. Aku ingat saat dia gagal meraih kesempatan menjadi anggota tim renang di kotanya, karena kurang tidur sehabis menonton sang kapten berlaga dalam pertandingan malam sebelumnya. Dia sempat marah pada dirinya sendiri, tapi ayahnya tak membiarkan itu berlarut lama. Dam kembali diperdengarkan cerita-cerita fanastik sang ayah. Sukses besar, cerita sang ayah mampu mengembalikan semangat juang Dam kecil. Ia pun kembali mencoba meraih kesempatan renang itu di tahun berikutnya, meskipun ada sedikit accident, tapi semangat juangnya yang tinggi mampu mengantarkan dia menjadi salah satu anggota tim renang di kotanya. Aku ingin meniru semangat juang itu dari Dam.

Andre Wongso. Aku yakin, tak ada yang asing dengan sosoknya. Salah satu motivator ternama di Indonesia. Selalu mengucapkan Selamat Pagi, kapan saja bertemu siang, malam. Karena pagi itu identik dengan kegairahan, kesegaran, semangat, Semangat, Semangat. Aku sempat penasaran pada kisah hidupnya yang katanya bergelar SDTT (sekolah Dasar Tidak Tamat). Kuputuskan untuk bertanya pada om google.
Nyaris bleber airmataku saat membaca kisah hidup Andre Wongso demi memperjuangkan masa depan yang lebih baik. kisah singkat perjalanan Andre Wongso.

Hidupku tak sesulit itu. Masih sangat beruntung. Bahkan uang kuliah pun aku tak perlu susah susah mencarinya sendiri. Orang tuaku masih diberi kekuatan untuk membiayai hidupku. Bahkan terkadang aku terlalu hura hura dalam menikmati hidup. Effort ku bahkan masih kalah telak dengan si kecil Dam. Kegigihannya membuatku bergidik.
Ku hitung hitung, dalam sehari tak sampai 10 kali aku mengucapkan syukur alhamdulillah pada Tuhan. Dengan keberkahan hidup yang kini kujalani, aku justru larut dalam kegalauanku. Dengan nikmat yang begitu banyak, aku justru sibuk memikirkan kesedihan yang sepele. Aku mungkin sudah lupa bagaimana caranya bersyukur, tapi Tuhan masih begitu baik dengan tetap memberiku kenikmatan ini.

Entah sampai kapan aku akan tetap tidur, sibuk dengan mimpi-mimpi besar, tapi tak juga bangun, duduk, berdiri, lalu berjalan, berusaha meraih mimpi-mimpi besar itu. Aku terlalu sibuk bermimpi akan seperti apa diriku 10 tahun lagi. Nol, mimpi itu hanya akan menjadi bualan, hanya akan menjadi mimpi buruk tanpa usaha dan doaku di pertiga malam.

Ibuku bilang, Tuhan selalu senang mendengar permintaan dariku. Karena Tuhan memiliki segalanya. Tapi doaku tak akan menjadi apa-apa jika tak ada usaha dariku untuk mewujudkannya. Aku ingat ada ayat yang menyebutkan, Tuhan tidak akan mengubah suatu kaum jika dia tidak berusaha untuk mengubahnya. Tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini jika aku memiliki keyakinan dan gigih berjuang meraih mimpi besarku.

Kegagalan itu bukan berarti Tuhan tidak mendengar doaku, tapi Tuhan sedang menundanya untuk melihat kegigihan usahaku. Tuhan Maha Mendengar kata Ayahku.
Keep spirit yaa.. :)